JADWAL KERJA

Dalam dunia pekerjaan terdapat macam jenis program yang menyangkut pembagian jadwal pekerjaan . Program ini  memberikan pembagian jadwal kerja yang fleksibel, yang pertama program Flextime dan program keterlibatan karyawan.

Program Flextime merupakan program penjadwalan kerja  yang mengizinkan pengaturan jadwal kerja yang lebih fleksibel

. Contoh :

– Pemanfaatan kerja mingguan program ini memberikan beban pekerjaan yang lebih sedikit dalam kerja harian dalam seminggu.

Berbagi pekerjaan program ini memungkinkan seorang karyawan untuk membagi pekerjaan yang sama terhadap karyawan yang lain, hal ini disebabkan waktu pekerjaan ataupun beban pekerjaan yang berat.

Program keterlibatan karyawan

• Perluasan pekerjaan

Program ini memungkinkan seorang karyawan untuk memgembangkan bidang pekerjaan yang telah dipercayakan kepadanya.

• Rotasi pekerjaan

Program ini memungkinkan seorang kayawan atau secara kelompok dapat berganti secara periodik dalam satu bidang pekerjaan

Contoh : Kelompok 1 karyawan operasional yang terlibat dalam 5 jenis  tugas yang berbeda, maka setiap karyawan dalam kelompok dapat  berfokus pada satu tugas perminggu dan selanjutnya berganti ke  pekerjaan yang lain.

PENGUKURAN WAKTU KERJA

analisa kerja menaruh perhatian bagaimana suatu macam pekerjaan akan terselesaikan. Dalam pengaplikasian prinsip dan teknik pengukuran cara kerja yang optimal dalam sistem kerja akan memberikan suatu alternatif metode pelaksanaan kerja yang lebih efektif dan efisien. Suatu pelaksanan kerja dikatakan efisien apabila waktu penyelesaian berlangsung singkat. Untuk menghitung waktu (standar time) penyelesaian pekerjaan maka perlu diterapkan prinsip-prinsip dan teknik pengukuruan kerja.

Pengukuran kerja adalah suatu metode penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan. Waktu baku diperlukan terutama untuk perencanaan kebutuhan tertentu tenaga kerja (man power planning), perhitungan upah, penjadwalan produksi dan penganggaran, perencanaan sistem, pemberian bonus (insentif) bagi karyawan yang berprestasi, indikasi keluaran yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja.

Teknik-teknik pengukuran waktu kerja dapat dibagi 2 :
• Pengukuran waktu secara langsung, yaitu ; pengukuran yang dilaksanakan ditempat dimana pekerja yang diukur dilaksanakan
• Pengukuran secara tidak langsung, yaitu cara pengukuran kerja dengan menggunakan jam henti (stop watch)

Pengukuran waktu kerja dengan jam henti (stop watch), Pertama kali diperkenalkan oleh F. Taylor, metode ini baik sekali digunakan untuk pekerjaan2 langsung, singkat dan berulang ulang. Hasil pengukuran waktu baku untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan digunakan sebagai standar penyelesaian pekerjaan bagi semua pekerja yang sama.

Langkah-langkah untuk pelaksanaan pengukuran waktu kerja dengan jam henti sebagai berikut ;

Langkah persiapan :

1. Pilih dan definisikan pekerjaan yang akan diukur dan akan ditetapkan waktu standarnya
2. Informasikan maksud dan tujuan pengukuran kerja kepada spervisor/pekerja

3. Pilih operator dan catat semua data yang berkaitan dengan sistem operasi kerja yang akan diukur waktunya

Elemen-elemen yang terpisah, Bagi siklus kegiatan yang berlangsung kedalam elemen2 kegiatan sesuai dengan aturan yang ada.

Persiapan waktu kerja, Waktu baku ditetapkan untuk suatu pekerjaan tidak berubah, material yang digunakan harus sesuai dengan spesifikasi

ISTIRAHAT DAN EFEK ISTIRAHAT DALAM BEKERJA

Penelitian pengaruh istirahat terhadap kinerja karyawan, dalam besarnya beban karyawan sehingga menyebabkan kinerja karyawan yang disebabkan keadaan biologis maupun psikologis karyawan. Dalam satu hari, jantung kita berdetak sebanyak 100.000 kali, darah kita mengalir melalui 17 juta mil arteri, urat darah halus dan juga pembuluh-pembuluh darah. Kita berbicara sebanyak 4.000 kata, bernafas sebanyak 20.000 kali, menggerakkan otot-otot besar sebanyak 750 kali, dan mengoperasikan 14 milyar sel otak. Manusia membutuhkan istirahat.

Istirahat memberikan dampak pemulihan. Tidur merupakan merupakan salah satu bentuk istirahat yang umum untukk dilakukan, dimana selama tidur semua fungsi-fungsi tubuh terisi diperbaharui lagi. Bentuk istirahat tidak hanya tidur, tetapi juga dapa melakukan bersantai sejenak, perubahan aktifitas dapat menenangkan otot-otot serta menghilangkan tekanan dalam bekerja. Studi menunjukkan tidur yang cukup, membuat otak kita kembali berfungsi dengan sangat baik serta membawa dampak pengertian /pemahaman segala jenis masalah biasanya dapat diselesaikan dengan

Bentuk istirahat yang dapat dilakukan Pertama, istirahat dalam keadaan sadar yakni menghentikan pekerjaan yang tengah dilakukan dan menggantinya dengan rehat sejenak Kedua, istirahat dengan tidur di malam hari yakni menghentikan sistem syaraf dan otot dari aktivitasnya.

Pertumbuhan hormon penting untuk meningkatkan kualitas, ukuran dan efisiensi otak, juga meningkatkan pengangkutan asam amino dari darah ke otak, yang memungkinkan sel urat syaraf untuk dapat memiliki pengetahuan yang permanen dan berguna. Kebanyakan dari pertumbuhan hormon diproduksi pada saat kita itdur dengan tenang (tanpa beban)

Salah satu hormon yang penting lainnya adolah Kortisol, dimana waktu produksi terfingginya adalah dari waktu tengah malam hingga di waktu pagi (pagi-pagi sekali). Kortisol memainkan peranan yang besar dalam membantu kita menghadapi stress/tekanan yang kita hadapi setiap hari, mengurangi rasa penat dan peradangan. Bila manusia tidur terlambat, mereka membatasi kemampuan tubuh untuk menangani segala kegiatan dan mengurangi tenaga dan vitalitas pada keesokan harinya.

Waktu yang tepat untuk bekerja adalah jam 8:00 – 17:00, Dalam organisasi perkantoran tempat sehat dengan reiki bekerja telah diatur jam istirahat kerja dimana didalamnya tercakup jam istirahat misalnya untuk makan siang dan kegiatan ibadah. Selanjutnya istirahat ini pun telah menjadi aturan bagi setiap pekerja dimana ia dapat memanfaatkan waktu istirahat kerja untuk tujuan mengistirahatkan fisik dan pikiran dari beban kerja yang menumpuk. Dengan istirahat kerja maka ia dapat mengendorkan pikiran dari kegiatan berpikir dan kegiatan fisik.

  • Pembagian kerja yang nyata

Dalam pembagian kerja harus didasarkan pada kemampuan masing-masing individu yaitu benar-benar berdasarkan beban kerja, ukuran kemampuan kerja dan waktu yang tersedia.

Sebelum abad ke-20, terjadi dua peristiwa penting dalam ilmu manajemen. Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1776, ketika Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi klasik, The Wealth of Nation. Dalam bukunya itu, ia mengemukakan keunggulan ekonomis yang akan diperoleh organisasi dari pembagian kerja (division of labor), yaitu perincian pekerjaan ke dalam tugas-tugas yang spesifik dan berulang. Dengan menggunakan industri pabrik peniti sebagai contoh, Smith mengatakan bahwa dengan sepuluh orang—masing-masing melakukan pekerjaan khusus—perusahaan peniti dapat menghasilkan kurang lebih 48.000 peniti dalam sehari. Akan tetapi, jika setiap orang bekerja sendiri menyelesaikan tiap-tiap bagian pekerjaan, sudah sangat hebat bila mereka mampu menghasilkan sepuluh peniti sehari. Smith menyimpulkan bahwa pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas dengan (1) meningkatnya keterampilan dan kecekatan tiap-tiap pekerja, (2) menghemat waktu yang terbuang dalam pergantian tugas, dan (3) menciptakan mesin dan penemuan lain yang dapat menghemat tenaga kerja.

KERJA BERGILIR (SHIFT KERJA)

Dalam aspek-aspek penentu kepuasan kerja karyawan, jam kerja merupakan bagian dari kondisi kerja yang menjadi salah satu indikator dalam mempengaruhi kepuasan kerja karyawan (Munandar, 2001). Jam kerja terbagi menjadi jam kerja normal dan sistem shift. Menurut Suma’mur (1994), shift kerja merupakan pola waktu kerja yang diberikan pada tenaga kerja untuk mengerjakan sesuatu oleh perusahaan dan biasanya dibagi atas kerja pagi, sore dan malam.

Monk dan Folkard (dalam Kyla, 2008) mengkategorikan tiga jenis sistem shift kerja, yaitu shift permanen, sistem rotasi cepat, dan sistem rotasi shift lambat. Dalam hal sistem shift rotasi, pengertian shift kerja adalah kerja yang dibagi secara bergilir dalam waktu 24 jam. Pekerja yang terlibat dalam sistem shift rotasi akan berubah-ubah waktu kerjanya, pagi, sore dan malam hari, sesuai dengan sistem kerja shift rotasi yang ditentukan. Di Indonesia, sistem shift yang banyak digunakan adalah sistem shift dengan pengaturan jam kerja secara bergilir mengikuti pola 5-5-5 yaitu lima hari shift pagi (08.00-16.00), lima hari shift sore (16.00-24.00) dan lima hari shift malam (24.00-08.00) diikuti dengan dua hari libur pada setiap akhir shift (Kyla, 2008).

Sistem kerja shift rotasi ada yang bersifat lambat, ada yang bersifat cepat. Dalam sistem kerja shift rotasi yang bersifat lambat, pertukaran shift berlangsung setiap bulan atau setiap minggu, misalnya seminggu kerja malam, seminggu kerja sore dan seminggu kerja pagi. Sedangkan dalam sistem kerja shift rotasi yang cepat, pertukaran shift terjadi setiap satu, dua, atau tiga hari (Scott&LaDou, dalam Adnan; 2002).

Adnan (2002) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa pada sistem shift rotasi terdapat aspek positif dan aspek negatif. Aspek positifnya adalah memberikan lingkungan kerja yang sepi khusunya shift malam dan memberikan waktu libur yang banyak. Sedangkan aspek negatifnya adalah penurunan kinerja, keselamatan kerja dan masalah kesehatan. Kinerja menurun selama kerja shift malam yang diakibatkan oleh efek fisiologis dan efek psikososial. Menurunnya kinerja dapat mengakibatkan kemampuan mental menurun yang berpengaruh terhadap perilaku kewaspadaan pekerjaan seperti kualitas kendali dan pemantauan. Survei pengaruh shift kerja terhadap kesehatan dan keselamatan kerja yang dilakukan Smith et. al, melaporkan bahwa frekuensi kecelakaan paling tinggi terjadi pada akhir rotasi shift kerja (malam) dengan rata-rata jumlah kecelakaan 0,69% per tenaga kerja (Adiwardana dalam Yasir, 2008).

Tidak semua orang dapat menyesuaikan diri dengan sistem kerja shift. Kerja shift membutuhkan banyak sekali penyesuaian waktu, seperti waktu tidur, waktu makan dan waktu berkumpul bersama keluarga. Secara umum, semua fungsi tubuh berada dalam keadaan siap digunakan pada siang hari. Sedangkan pada malam hari adalah waktu untuk istirahat dan pemulihan sumber daya (energi). Monk (dalam Adnan, 2002) mengatakan, individu yang tergolong tipe siang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kerja shift malam. Individu dengan tipe siang adalah individu yang bangun tidur lebih pagi dan tidur malam lebih awal dari rata-rata populasi.

Jika seorang karyawan tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem kerja shift ini, dapat menimbulkan ketidakefektifan dalam bekerja yang akan mempengaruhi sikapnya terhadap pekerjaan mereka. Namun, tidak semua karyawan yang mendapatkan jadwal sistem shift dalam bekerja merasakan hal tersebut.

Keadaan pada setiap jadwal shift berbeda-beda, tidak semua individu merasakan kepuasan kerja pada shift yang dijalani. Individu merasakan kepuasan terhadap pekerjaannya apabila dirinya melakukan pekerjaan dengan baik dengan tingkat kesalahan yang kecil, selain itu kerjasama kelompok dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat mempengaruhi individu dalam merasakan kepuasan terhadap pekerjaannya. Kelompok yang dapat bekerjasama dengan baik dan memiliki hubungan yang harmonis antar karyawan lainnya cenderung dapat melakukan pekerjaan dengan baik sehingga hasil dari pekerjaannya tersebut dapat memberikan kepuasan terhadap diri karyawan. Biasanya kepuasan kerja yang dialami karyawan, apabila mereka mendapatkan jadwal dengan shift pagi atau siang. Ketika menjalani shift pagi atau siang, individu dan kelompoknya masih memiliki konsentrasi dan tingkat kefokusan yang baik sehingga ketelitian dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat mengurangi kesalahan atau kelalaian.

Sebaliknya, seorang karyawan yang merasakan ketidakpuasan terhadap pekerjaanya sebagian besar ketika dihadapkan pada jadwal shift malam. Rasa kantuk yang sering dialami dirinya dan rekan kelompoknya dapat membuat tingkat konsentrasi menurun dan kurang fokus dalam melakukan pekerjaannya. Menurunnya konsentrasi dan kurang fokusnya pada diri individu seringkali membuat individu tidak teliti dalam melakukan pekerjaanya yang mengakibatkan tingkat kesalahan atau kelalaian semakin besar. Sehingga hasil dari pekerjaan yang mereka lakukan tidak memberikan kepuasan pada diri mereka terhadap pekerjaannya.

Individu yang merasakan kepuasan kerja akan memberikan berbagai respon, antara lain dengan jumlah kehadiran yang baik, merasa senang dalam merasakan pekerjaan, serta menerima pekerjaan dengan penuh tanggung jawab. Begitupun sebaliknya, individu yang merasakan ketidakpuasan dalam pekerjaannya akan memberikan respon yang negatif, seperti kemangkiran dalam bekerja, jumlah kehadiran yang kurang, dan biasanya memiliki motivasi yang rendah terhadap pekerjaan yang dijalaninya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: